Dualitas keseimbangan alam


Sama seperti Newton mendalilkan berabad-abad yang lalu; setiap tindakan, ada reaksi berlawanan yang sama; orang Bali percaya bahwa ada dua kekuatan yang berlawanan yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan universal. Itulah konsep rwa bhineda.

Rwa bhineda secara harfiah berarti “dua hal yang berlawanan”. Orang Bali percaya bahwa segala yang ada sebagai dualitas. Keberadaan dualitas ini adalah apa yang membawa keseimbangan kosmik ke alam semesta. Jadi, jika ada kebaikan, kejahatan harus ada untuk membawa keseimbangan. Kelahiran menyeimbangkan kematian, suka cita menyeimbangkan kesedihan, keseimbangan muda tua, keseimbangan positif negatif, kesehatan menyeimbangkan penyakit, dan sebagainya. Alam semesta terus-menerus menyesuaikan diri untuk menghasilkan keseimbangan sempurna. Ini mirip dengan konsep yin-yang lebih akrab dalam Taoisme.

Untuk melambangkan rwa bhineda dalam kehidupan sehari-hari, orang Bali sering menggunakan metafora hitam dan putih. Hitam melambangkan kejahatan sementara putih melambangkan kebaikan. Anda mungkin telah memperhatikan sebagian besar atribut di Bali, terutama kain upacara, memiliki pola seperti papan catur hitam dan putih. Itu sering melilit pohon beringin besar dan tempat-tempat suci. Anda mungkin berpikir itu untuk arwah, tapi itulah yang diingat orang Bali rwa bhineda.

Rwa bhineda tertanam begitu dalam ke dalam kehidupan orang Bali, itu praktis merupakan bagian dari cara hidup orang Bali. Sejak usia muda, orang Bali diajarkan untuk tidak berkubang terlalu lama dalam keputusasaan, karena akan ada sukacita untuk menyeimbangkannya. Demikian juga, tidak bijaksana untuk merayakan kegembiraan yang berlebihan, karena itu bersifat sementara dan akan diimbangi dengan kesedihan pada waktunya. Ini juga mengajarkan toleransi karena rwa bhineda lebih menekankan pada menghargai perbedaan, daripada memusuhi mereka. Ini benar-benar filosofi yang hebat!




Berbagi adalah wujud Karma positif

Berbagi pengetahuan tidak akan membuat kekurangan

Blog Terkait