Si Pembuat Jembatan


Ini adalah kisah tentang dua saudara yang hidup berdampingan di daerah pertanian mereka sendiri selama bertahun-tahun.

Suatu hari, karena argumen menyebabkan keretakan di antara mereka. Terjadi pertikaian serius pertama mereka sejak entah berapa tahun merka tinggal bersama. Hingga hari itu, mereka selalu mengerjakan ladang mereka bersama, berbagi pengetahuan menghasilkan perkebunan dan saling membantu satu sama lain pada saat dibutuhkan.

Pertikaian dimulai karena kesalahpahaman kecil, tetapi perselisihan terus berlanjut dan menjadi saling bermusuhan.

Suatu hari, ada ketukan di pintu kakak laki-laki itu. Ketika dia membukanya, dia menghadap seorang tukang kayu tua berjanggut, memegang sebuah kotak peralatan.

“Tuan apakah ada pekerjaan untuk saya,? atau mungkin anda perlu beberapa perbaikan di kebun anda ini ?” kata orang asing itu.

“Ya, ada…”, jawab pemilik kebun itu.

“Aku punya pekerjaan untukmu. Di seberang sungai, ada sebuah peternakan yang kebetulan milik adik saya.

“Baru-baru ini seluruh area di antara rumah-rumah kami berwarna hijau, tetapi kemudian ia mengubah jalur anak sungai, dan itu membuatnya menjadi perbatasan di antara kami. Kau melihat pohon-pohon di dekat gudang saya itu? Saya ingin anda membangunnya menjadi pagar setinggi mungkin yang bisa anda kerjakan. Saya tidak  ingin melihat wajah adik saya lagi” kata pemilik petanian itu.

Tukang kayu tua itu berpikir pelan pada dirinya sendiri selama beberapa menit dan akhirnya berkata: “Aku mengerti”.

Petani itu membantu tukang kayu membawa peralatan kayunya untuk mengerjakan apa yang di perintahkan, dan sementara pemilik petanian itu pergi ke kota untuk beberapa keperluan.

Ketika dia kembali di malam hari, tukang kayu tua itu selesai membuat jembatan.

Setibanya di sungai, si pemilik pertanian tertegun. Matanya melalak, dan dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Di mana pagar seharusnya berdiri, justru jembatanlah sekarang berdiri. Jembatan yang mengagumkan dan istimewa, benar-benar sebuah karya seni, dengan pegangan tangga yang diukir dengan rapi.

Pada saat yang sama, kebetulan adik lelaki pemilik perkebunan itu kebetulan lewat, kemudian melihat itu dia datang ke tempat yang sama.

Dia bergegas melewati jembatan dan memeluk kakak laki-lakinya, dan berkata:
“kakak, kau sangat istimewa … membangun jembatan untuk hubungan kita, setelah semua yang sudah saya katakan dan lakukan padamu dulu”

Akhirnya kedua bersaudara saling memeluk, sementara tukang kayu tua mengumpulkan alat-alatnya dan mulai beranjak pergi.

Kedua Saudara itu menoleh kepadanya dan berkata, ”Tolong, tinggallah selama beberapa hari lagi… kami memiliki lebih banyak hal yang perlu anda diperbaiki.”

“Saya ingin sekali tinggal Tuan, tapi saya punya tugas lebih banyak jembatan untuk dibangun dan hal-hal untuk diperbaiki di tempat lain …”

Pesan moral:

Kita sering membiarkan kemarahan menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai dan membiarkan kesombongan datang memisahkan cinta. Jangan biarkan itu terjadi pada anda. Belajarlah untuk memaafkan dan menghargai apa yang anda miliki.
Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi masa depan bisa saja diperbaiki. Tidak ada pertengkaran yang dapat merusak koneksi yang sebenarnya. Bangun jembatan anda saat anda harus dan selalu silangkan pendapat dengan senyum.



Berbagi adalah wujud Karma positif

Berbagi pengetahuan tidak akan membuat kekurangan